Soba dan Udon, dengan Kuah yang Dipikirkan Ulang
Jiwa soba dan udon ada pada kuahnya — dan kuah tradisional mengandung mirin serta sake, sehingga di situlah kunci mi Jepang yang ramah halal. Halaman Mi Jepang di Halal Gourmet Japan menampilkan rumah makan dari berbagai daerah, termasuk beberapa yang terdaftar bersertifikat halal dan sebuah kedai yang menyebut telah mengembangkan kuah tanpa mirin.
Di Iwate, sebuah kedai soba yang menyebut sejarahnya bermula pada 1907 mengembangkan wanko soba versi ramah Muslim — gaya makan sepuasnya ketika pelayan terus mengisi ulang mangkuk kecil Anda. Kedai ini menyebut memasak kuah tanpa mirinnya di panci yang dipisahkan dari panci biasa; lima belas mangkuk setara satu porsi soba biasa, dan bila Anda menghabiskan lebih dari seratus mangkuk, Anda mendapat sertifikat khas kedai ini. Wanko soba yang ramah halal perlu dipesan lewat telepon tiga hari sebelumnya.
Tempat singgah yang praktis pun terdaftar bersertifikat halal: rumah makan mi di Terminal 1 dan 2 Bandara Internasional Narita serta di DiverCity Tokyo Plaza, yang semuanya juga terdaftar menggunakan peralatan masak dan peralatan makan khusus — semangkuk pertama atau terakhir yang mudah dijangkau dalam perjalanan Anda.
Kota-kota wisata punya mi khasnya sendiri. Anda bisa menemukan kedai soba di sepanjang jalan gudang bersejarah bergaya kurazukuri di Kawagoe, kedai udon di Ishikawa yang menonjolkan udon Komatsu khas daerah itu dengan musala terdaftar, dan rumah soba di Takayama yang memakai tepung soba lokal serta menyebut menyediakan menu yang disesuaikan dengan ketentuan halal bila dipesan tiga hari sebelumnya — juga mempersilakan salat di dalam kedai di luar musim ramai. Di kantin sebuah rest area di Urabandai, Fukushima, ramen kuah garam yang dibuat dengan garam Yamashio buatan setempat dan daging berbahan kedelai disajikan sebagai semangkuk yang ramah Muslim.
Ikuti peta dan seruput perjalanan Anda menyusuri Jepang, semangkuk demi semangkuk yang dipikirkan dengan cermat.
Konten diperiksa: 20 Agustus 2026